BERITA 7. Tangerang – Kecurangan itu ditemukan oleh Komunitas Masyarakat Peduli Pendidikan Banten dengan koordinator Edi Saputra, yang berencana melakukan somasi dan tuntutan audit agar inspektorat dan Kejati yang bertanggung jawab dapat mengecek secara langsung dugaan jual beli bangku yang dilakukan SMAN 9 Kota Tangerang.

Bola panas yang sengaja diciptakan SMAN 9 Kota Tangerang semakin membara dan siap-siap membesar.
berawal dari PPDB 2021-2022 yang diwarnai kecurangan terstruktur yang dilakukan oknum dari pihak sekolah.

Ketika ditemui, (31/7/21) Edi menekankan perjuangan untuk membersihkan gurita kecurangan di SMAN 9 Kota Tangerang akan terus berjalan dan tak ada kata mundur sampai proses audit dilakukan.

“Saya menyakini dugaan jual beli bangku itu benar adanya dan meminta pihak inspektorat untuk terjun dan lakukan audit,” jelas Edi..

Edi menerangkan, apa yang diperbuat SMAN 9 Kota Tangerang ini telah mencoreng dunia pendidikan Kota Tangerang, Banten dan Indonesia. Berharap ada tindakan nyata dan tegas dari Kepala Dinas Pendidikan untuk menindak dan memberi sanksi yang pantas.

“Kalau perlu copot dan hukum Kepala Sekolah SMAN 9, sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini,” pungkasnya.

Di tempat terpisah, pihak kami menemui salah satu orang tua murid yang diduga anaknya menjadi korban kecurangan dari pihak sekolah SMAN 9 Kota Tangerang.

“Anak tetangga saya sudah di terima pak, tadi saya di minta datang oleh pihak sekolah untuk isi formulir daptar ulang. Dan sudah di masukan kelas,Tadi sudah fix dapat kelas IPA d 9 dan hari senin disuruh datang lagi untuk ukur baju. Ucap si ibu kepada awak media dengan gaya kesalnya.

Menerima pengakuan tetangganya yang menyatakan di terima per tanggal 30 Juli 2021, sudah fix dan disuruh datang senin nanti untuk ukur baju. Orangtua anaknya menjadi korban kecurangan merasa yakin adanya jual beli bangku mengingat tetangganya tersbut sama sama daptar seleksi online dan sama sama tidak lulus

Saksi tersebut mengatakan, jika dilihat dari rata-rata nilai yang didapat anaknya, maka nilai anaknya itu jauh lebih baik dari nilai anak tetangganya.

“Saya sedih, anak saya ditenggelamkan namanya dan gagal masuk ke SMAN 9. Padahal nilainya bagus, dan sekarang saya tambah sedih lagi pas mendengar pengakuan tetangga saya bahwa anaknya di terima kemarin sebagai calon murid susulan, ada apa ini? ucapnya.

Orang tua murid tersebut pun menegaskan, dirinya siap menjadi saksi atas dugaan praktek kecurangan yang dilakukan oknum pihak sekolah.

“Saya siap jadi saksi dan bongkar semuanya,” tegasnya.

Sebagai akhir kata, orang tua murid yang siap menjadi saksi tersebut sangat mengapresiasi kepedulian Edi Saputra dan lembaga Komunitas Masyarakat Peduli Pendidikan Banten yang sedang berjuang menuntut keadilan, hingga diharapkan kecurangan jual beli bangku tak terjadi lagi, tak hanya di SMAN 9 Kota Tangerang, tapi di seluruh sekolah yang ada di Kota Tangerang, Banten dan Indonesia.

“Saya harap dengan suara saya yang diperjuangkan Pak Edi, dunia pendidikan akan menjadi jauh lebih baik lagi,” pungkasnya.(Ivn)